Friday, October 19, 2018

Hermeneutika Paul Ricoeur


Paul Ricoeur (1913), seorang hermeneut dan filosof yang religius, berupaya untuk mengembalikan fokus hermeneutik kepada domain teks. Ricoeur memperluas definisi hermenutik sebagai “perhatian kepada teks”. Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata tertulis sebagai ganti kata-kata yang diucapkan. Ia menyatakan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas.[1]Akan tetapi bukan berarti ia menganggap bahwa teks merupakan objek penelitian hermeneutik yang sempit. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa justru teks lah yang telah memberikan manusia pengetahuan yang lebih luas. Menurutnya, karya-karya tertulis itu memiliki makna karena mereka merupakan refleksi dari kehidupan, dan kehidupan sendiri menghasilkan makna-makna yang diperoleh melalui kemampuannya untuk terepresentasikan dalam karya-karya tertulis.[2]

Manusia pada dasarnya merupakan bahasa dan bahasa adalah syarat utama bagi semua pengalaman manusia. Melalui bahasa, maka  kita bergaul dengan masyarakat, mengungkapan tentang dirinya, mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa. Meskipun di sisi lain bahasa juga mempunyai kelemahan, sebab kita memahami melalui bahasa, kita salah paham juga melalui bahasa. Akan tetapi, melalui hermeneutik, segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab, yaitu melalui interpretasi.

Manusia membangun sejarah pribadi dan kehidupannya dalam bahasa, sehingga ekspresi atau ungkapan yang mereka gunakan akan mempunyai arti atau makna yang berbeda-beda. Ekspresi yang berbeda-beda itulah yang tertuang ke dalam teks, apapun bentuk teksnya. Ricoeur menyatakan, disiplin apapun yang sedang kita geluti, apakah ia sejarah, psikoanalisis, kritisisme literal, atau apa saja, semua disiplin itu, bagaimanapun terbangun oleh teks, dan tiap teks-teks tersebut mengandung makna-makna tersembunyi yang diungkapkan oleh hermeneutik-yakni makna dari kehidupan (The meaning of Life).  Kehidupan itu sendiri, menurut Ricoeur, dapat dibaca, atau diinterpretasikan, dan interpretasi itu sendiri mengungkapkan kehidupan menjadi sebuah narasi.[3]
Menurut Ricoeur, tulisan adalah manifestasi penuh dari sebuah wacana. Apa yang kita bakukan dalam tulisan adalah suatu wacana yang bisa dikatakan  berasal dari suatu ujaran berdasarkan pada situasi, tempat dan waktu tertentu.  Itulah mengapa, sebelumnya perlu kita ketahui bahwa wacana yang dibakukan ke dalam teks mampu didapatkan melalui proses komunikasi.
Metode yang digunakan dalam kajian hermenutiknya Ricoeur untuk mengalilis sebauh “teks” adalah dengan pendekatan fenomenologi, struktualisme dan psikoanalisis. Menurut Ricoeur, salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah “perjuangan melawan distansi kultural”, yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. Kita baru bisa mengkritik jika kita membuat jarak dengan objek kritik. Namun, kritik yang kita lakukan itu membawa juga struktur-struktur yang sudah jadi dari gagasan-gagasan kita dalam bahasa yang diungkapkan dalam struktur itu juga sudah kita beri warna. Oleh karena itu, setiap orang yang mengajukan kritik sebenarnya sudah membawa serta anggapan-anggapan, yang oleh Gadamer dikatakan tidak sepenuhnya kabur atau bahkan menipu. Sebab bila seorang penafsir mengambil jarak terhadap peristiwa-peristiawa sejarah dan budaya, ia tidak bekerja dengan tangan yang sebelumnya kosong. Ia masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut Vorhabe (apa yang ia miliki), Vorsich (apa yang ia lihat), dan Vorgriff (apa yang akan menjadi konsepnya kemudian). Ini semua menandakan bahwa kita sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka.

Posisi Ricoeur dalam hermeneutika dapat dikategorikan sebagai salah seorang tokoh hermeneutika fenomenologi, seperti halnya Heidegger dan Gadamer. Hermeneutika fenomenologi merupakan suatu teori interpretasi reflektif yang didasarkan pada perkiraan filosofis fenomenologi. Hermeneutika fenomenologi mempertanyakan hubungan subjek-objek, dari pertanyaan tersebut dapat diamati bahwa ide dari objektivitas merupakan sebuah hubungan yang mencakup objek yang tersembunyi. Ricoeur menyatakan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan teks yang diinterpretasi adalah sebuah pertanyaan tentang arti dan makna teks. Arti dan makna teks itu diperoleh dari upaya pencarian dalam teks berdasarkan bentuk, sejarah, pengalaman membaca, dan refleksi diri dari inter-preter. Oleh karena itu, setiap teks selalu terbuka untuk diinterpretasi terus-menerus. Meskipun demikian, proses pemahaman dan interpretasi teks bukanlah merupakan suatu upaya menghidupkan kembali atau reproduksi, melainkan sesuatu hal yang bersifat rekreatif dan produktif. Oleh karena itu, peran subjek sangat menentukan dalam interpretasi teks sebagai pemberi makna, maka subjek sebagai interpreter harus dapat menampilkan keaktualitasan/kekinian kehidupannya sendiri berdasar-kan pesan yang dimunculkan oleh objek yang ditafsirkannya.

Di samping itu, Ricoeur menyatakan dalam "writing" (penulisan) ada proses "distanciation" dan dalam "reading" (pembacaan) ada proses "appropriation". Apa yang dimaksudkannya? apa yang di-distanciate dan yang di-appropriate?
Distansiasi adalah unsur yang  memainkan peran penting dari teori hermeneutika Ricoeur. Distansiasi merupakan jalan utama menuju otonomi teks dimana wacana terinskripsikan melalui tulisan. Distansiasi merupakan pemeliharaan makna yang me- munculkan interpretasi.
Terdapat 4 macam  distansisasi yang terjadi dalam teks. Pertama, Distansiasi makna dari peristiwa. Terjadinya dialektika antara wacana dan peristiwa yang  mengandaikan bahwa keseluruhan wacana sebagai peristiwa sehingga   dipahami keseluruhan peristiwa sebagai makna. Kedua, Distansiasi makna teks dengan maksud pengarang. Maksud pengarang terdistansiasi setelah wacana terinskrpsi dalam teks. Ketiga, distansiasi teks dari kondisi yang   mengi- tarinya. Kondisi awal teks dengan dimensi sosio kulturalnya tidak diperlukan mengingat teks terbuka untuk seapapun . Teks memutus perkembangan historis awal.  Keempat, distansiasi audiens. Teks membebaskan diri dari audiens  awal  dan selanjutnya membuka diri bagi siapapun yang membuka jalan bagi adanya otonomi teks.  Menjelaskan bahwa karakter esensial dari teks literer adalah bahwa ia mentransendensikan kondisi-kondisi psikologis produksi karyanya sendiri dengan begitu membuka dirinya ke arah rangkaian pembacaan yang tak terbatas, dimana pembacaan dalam situasi sosiokul-tural yang berbeda.
Paul Ricoeur berpendapat subjek tidak pernah sampai pada pengetahuan dan pemahaman tentang dirinya sendiri tanpa ditandai oleh yang lain dalam bentuk perbandingan, kontras, oposisi, perbedaan atau kesamaan. Pemahaman diri bukan berlangsung dalam pertemuan ada dan pemikiran. Ada jarak antara subjek yang merefleksi dengan diri. Untuk menjembatani jarak tersebut, menurut Ricoeur, perlu mediasi tanda, simbol dan teks.
Sedangkan apropriasi (appropriation) adalah menja dikan sesuatu yang sebelumnya “asing” kemudian  menjadi “milik  sendiri”. Paul Ricoeur berpendapat distansiasi bermakna pemisahan sedangkan apropriasi dimak- sudkan sebagai obat yang dapat menyelamat- kan warisan kultural masa lampau dari aliansi distansiasi . Apropriasi bertujuan untuk mengaktualkan makna teks bagi pembaca terkini. Apropriasi tetap menjadi konsep bagi aktualisasi makna yang dialamatkan kepada seseorang. Hermeneutika sempurna sebagai apropriasi ketika pembacaan lentur dengan sesuatu seperti sebuah peristiwa. Apa yang diapropriasikan adalah kekuatan mengungkap dunia yang membentuk referensi teks. Apropriasi lebih dekat kepada peleburan horizon yakni ho- rizon dunia pembaca dipadukan dengan horizon dunia penulis.
Tahap penting antara penjelasan dan pemahaman diri adalah penggelaran wahana/ dunia teks. Tahap ini membentuk dan meng- ubah pembaca atau penafsir. Istilah-istilah ini menunjuk  ke objektivitas keberadan baru yang diproyeksikan oleh teks. Wahana/dunia baru ini tidak berasal  langsung dari maksud pengarang. Tetapi disingkap melalui struktur- struktur karya atau teks. Dunia  yang digelar dan disarankan oleh teks ini baru bermakna bila menjadi miliki pembaca atau penafsir (apropriasi).
Titik tolak apropriasi adalah bahwa teks merupakan medium di mana si pembaca memahami dirinya sendiri, sehingga menan- dai kemunculan karakter subjektifitas pem- baca yang meluas menjadi karakter funda- mental wacana sebagai sebuah keberadaan yang dialamatkan kepada orang lain.

Pentingnya distansiasi dalam hermeneutika Paul Ricoeur adalah untuk menjaga jarak keobjektifan dalam ilmu-ilmu kemanusian yang diharapkan akan mampu membawa pada dialektika antara aliansi distansiasi dengan pengalaman. Distansiasi Ricoeur lebih dilatarbelakangi  oleh studi bahasa, teru- tama oleh ahli bahasa Perancis, Benveniste. Menurutnya, bahasa wacana dengan bahasa sebagai bahasa merupakan dua hal yang berbeda. Kini pemilahan terserbut muncul dalam konsep, bahasa sebagai sistem bahasa dan dibedakan dari bahasa sebagai sistem komunikasi. Bahasa sebagai sistem adalah bahasa merupakan suatu tumpukan yang pasif, misalnya dalam kamus; sementara bahasa sebagai sistem komunikasi adalah bahasa yang telah diaktifkan oleh seseorang dalam suatu waktu dan tempat tertentu.
Aprpopriasi (menjadi miliki diri) atau pemahaman diri menandai pertemuan antara dunia yang disarankan oleh teks dan dunia kongkrit pembaca atau penafsir. Pembauran karena pembaca tidak mungkin mengambil alih  dunia teks secara keseluruhan dan me- ninggalkan  dunia aktual tetap dan sekaligus tidak menolak dunia yang ditawarkan teks. Dunia pembaca mengalami transformasi. Kategori ini langsung menyangkut keberadaan pembaca/penafsir. Perubahan pada diri pembaca terjadi berkat pengaruh teks yang di baca sehingga mengubah dirinya atau membantu memahami diri lebih baik.
Pengambilan jarak terhadap diri sendiri pada proses pemahaman diri (approriasi) merupakan prasyarat mutlak agar tidak terjadi distorsi   makna dan agar dapat merelativisir kesewenang-wenangan di dalam penafsiran. Pengambilan jarak ini bersifat kreatif karena akan memperkaya dan memurnikan pemahaman diri. Pengambilan jarak terdiri dari kritik ideologi, dekonstruksi dan analogi permainan.
Kritik Ideologi adalah kritik atas prangka -prasangka dan ilusi-ilusi penafsir. Kritik ini menjadi penting karena dalam setiap penafsiran, subjek penafsiran  sudah memiliki pra pengalaman yang bisa mempermudah pemahaman, tetapi bisa juga mnghambat atau mengacaukan. Pemahaman hermeneutika yang memusatkan  diri pada teks, krirtik ini sekaligus  merupakan pengakuan  terhadap serangan dari luar, yang mungkin bisa destruktif, tetapi kemudian di ubah menjadi alat otokritik untuk pemurnian diri. Maka jawaban atas kritik itu bukan lagi apologi, tetapi penjinakan serangan yang datang dari luar untuk kepentingan pemur-nian dalam pemahaman diri yang lebih baik. Bentuk distansiasi yang mirip dengan kritik ideologi ini ialah dekonstruksi. Melalui de-konstruksi, pembaca di ajak untuk membongkar motivasi-motivasi baik sadar atau bawah sadar, serta kepentingan kepentingan diri atau kelompok di depan teks.

JIka dalam hermeneutika Dilthey: penjelasan dan pemahaman dibedakan, sementara dalam hermeneutika Ricoeur keduanya digunakan dalam penafsiran.
Dalam kegiatan pengesahan penafsiran, prosedur yang digunakan lebih cenderung kepada logika probabilitas daripada logika verifikasi empirik. Dalam menafsirkan di sini yang dilihat adalah mana ‘yang lebih mungkin’. Dengan kata lain, digunakan logika ketidakpastian dan logika probabilitas kualitatif. Kontrol terhadap validitas adalah adanya persaingan antar penafsir. Sebuah penafsiran yang mampu melewati persaingan bukan saja harus mungkin, namun juga harus ‘lebih mungkin’ daripada kemungkinan yang lain. Dalam penafsiran ini dituntut usaha pemahaman yang mendalam terhadap teks atau tindakan. Pemahaman terjadi secara tidak langsung melalui prosedur penjelasan. Pemahaman diperoleh lewat proses dinamis penjelasan yang berlangsung. Dengan adanya proses penjelasan, pemahaman dihindarkan dari kecenderungan hanya menangkap ‘hal-hal yang dirasa’ penafsir sebab penafsir di sini menceburkan dirinya secara total pada proses penafsiran yang melibatkan penjelasan.


[1]E. Sumaryono. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 107
[2]Karl Simms. Paul Ricoeur. London: Routledge. 2003. Hal. 2.
[3]Ibid.,

No comments:

Post a Comment